100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman… insyaallah
1. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
2. Sabar apabila mendapat kesulitan;
3. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
8. Jangan usil dengan kekayaan orang;
9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;
42. Berlakulah adil dalam segala urusan;
43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
46. Perbanyak silaturahmi;
47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
48. Bicaralah secukupnya;
49. Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
55. Hormatilah kepada guru dan ulama;
56. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
57. Cintai keluarga Nabi saw;
58. Jangan terlalu banyak hutang;
59. Jangan terlampau mudah berjanji;
60. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
62. Bergaullah dengan orang-orang shaleh;
63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
67. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian;
68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan;
70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan;
71. Jangan melukai hati orang lain;
72. Jangan membiasakan berkata dusta;
73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
77. Jangan membuka aib orang lain;
78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama dan umat manusia;
83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
84. jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
86. Hargai prestasi dan pemberian orang;
87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita menjadi terganggu;
91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum dicek kebenarannya;
95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri;
98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang;
Sabtu, 12 Desember 2009
Ciri ciri hamba yg ikhlas
Ciri ciri hamba yg ikhlas
1. Memberi sesuatu dgn perasaan ringan dan tanpa beban di hati.
2. Di hati berkata ketika tangan terjulur memberi kpd yang diberi ” Ini milik Allah dan saya harus mengembalikan kepada-Nya melalui kamu”.
3. Ketika memberi tak berharap imbalan atau ucapan terima kasih, yg penting bg yg diberi merasa bahagia.
4. Tidak mau diperlihatkan org apalagi disorot Media, krn tugas iblis selain menjegal dan menggugurkan amal-amal saleh, jg ia sgt sabar menunggu kapan hamba-hamba yg ikhlas gugur amalnya dgn cara dipuja atau diungkit-ungkit.
5. Tak pernah kecewa walau ternyata amal salehnya berimbas kpd ujian dan cobaan yg menyakitkan.
6. Tak pernah resah dan gelisah dan tak pernah bangga dgn keberhasilan, dan tak pernah merasa sedikitpun sedih bila mengalami kegagalan, sebab yg dicari hanyalah ridho Allah SWT.”Illahi anta maqsudi waridoka mathlubi”.
7. Beramal karena Ikhsan, Lillah, Billah, Minallah, Ilallah.
Insya Allah…
1. Memberi sesuatu dgn perasaan ringan dan tanpa beban di hati.
2. Di hati berkata ketika tangan terjulur memberi kpd yang diberi ” Ini milik Allah dan saya harus mengembalikan kepada-Nya melalui kamu”.
3. Ketika memberi tak berharap imbalan atau ucapan terima kasih, yg penting bg yg diberi merasa bahagia.
4. Tidak mau diperlihatkan org apalagi disorot Media, krn tugas iblis selain menjegal dan menggugurkan amal-amal saleh, jg ia sgt sabar menunggu kapan hamba-hamba yg ikhlas gugur amalnya dgn cara dipuja atau diungkit-ungkit.
5. Tak pernah kecewa walau ternyata amal salehnya berimbas kpd ujian dan cobaan yg menyakitkan.
6. Tak pernah resah dan gelisah dan tak pernah bangga dgn keberhasilan, dan tak pernah merasa sedikitpun sedih bila mengalami kegagalan, sebab yg dicari hanyalah ridho Allah SWT.”Illahi anta maqsudi waridoka mathlubi”.
7. Beramal karena Ikhsan, Lillah, Billah, Minallah, Ilallah.
Insya Allah…
Antara Orang Kaya dengan Anak Kecil di Masjid
Antara Orang Kaya dengan Anak Kecil di Masjid
Suatu hari ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan sholat, dia termasuk orang yang saleh, lalu dia melihat seorang anak kecil yang berumur tidak lebih dari dua belas tahun sedang berdiri mengerjakan sholat dengan khusyu’, melakukan ruku’ dan sujud dengan hening dan tenang, tatkala anak itu selesai dari sholatnya mendekatlah si kaya seraya bertanya kepadanya, ”Anak siapakah kamu ?”
”Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku”
”Maukah kamu menjadi anakku?”
Si anak berkata,”Apakah engkau akan memberiku makanan ketika aku lapar?”
Si lelaki kaya menjawab,”Ya, InsyaAlloh”
”Apakah engkau akan memberi minum ketika aku haus?”
” Ya, InsyaAllah”
” Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?”
” Ya, InsyaAllah”
” Apakah engkau akan menghidupkan aku tatkala aku sudah mati?”
Takjublah lelaki itu seraya berkata,’ ”Ini tidak mungkin dilakukan!”
Anak kecil itu berkata, ”Kalau begitu, tinggalkanlah aku bersama Dzat yang telah menciptakan aku, memberiku rezeki, mematikan aku kemudian menghidupkanku kembali”
Lelaki itu berkata kepada si anak, ”Benar wahai anakku! Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupinya”.
(Dikutip dari: Asybaluna Al-‘Ulama, Oleh Muhammad Sulthon)
www.mediamuslim.info
Suatu hari ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan sholat, dia termasuk orang yang saleh, lalu dia melihat seorang anak kecil yang berumur tidak lebih dari dua belas tahun sedang berdiri mengerjakan sholat dengan khusyu’, melakukan ruku’ dan sujud dengan hening dan tenang, tatkala anak itu selesai dari sholatnya mendekatlah si kaya seraya bertanya kepadanya, ”Anak siapakah kamu ?”
”Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku”
”Maukah kamu menjadi anakku?”
Si anak berkata,”Apakah engkau akan memberiku makanan ketika aku lapar?”
Si lelaki kaya menjawab,”Ya, InsyaAlloh”
”Apakah engkau akan memberi minum ketika aku haus?”
” Ya, InsyaAllah”
” Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?”
” Ya, InsyaAllah”
” Apakah engkau akan menghidupkan aku tatkala aku sudah mati?”
Takjublah lelaki itu seraya berkata,’ ”Ini tidak mungkin dilakukan!”
Anak kecil itu berkata, ”Kalau begitu, tinggalkanlah aku bersama Dzat yang telah menciptakan aku, memberiku rezeki, mematikan aku kemudian menghidupkanku kembali”
Lelaki itu berkata kepada si anak, ”Benar wahai anakku! Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupinya”.
(Dikutip dari: Asybaluna Al-‘Ulama, Oleh Muhammad Sulthon)
www.mediamuslim.info
“Keutamaan Sholat Dhuha”
Masih tentang “Keutamaan Sholat Dhuha”
Orang yang suka memulai di pagi harinya dengan menyebut dan mengagungkan Allah dengan melakukan shalat dhuha yakni shalat sunnat dua rakaat sekali, dua kali, tiga kali atau empat kali sesudah naik matahari kira-kira antara jam 7 sampai dengan jam 11, Allah SWT akan menjamin baginya dengan jaminan istimewa di dunia dan akhirat.
Perbuatan tersebut adalah kebiasaan yang dilakukan Rasulullah SAW selama hidupnya, sebagaimana beberapa keterangan antara lain :
“Telah berkata Abu Huraerah : Kekasih saya, (Nabi Muhammad SAW) telah berwasiat tiga perkara kepada saya, yaitu puasa tiga hari tiap-tiap bulan, sembahyang dhuha dua rakaat dan sembahyang witir sebelum tidur”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari Muslim).
“Ada orang bertanya kepada Aisyah : Adakah Rasulullah SAW sembahyang dhuha? Jawabnya : Ada, empat rakaat, dan terkadang ia tambah yang dikehendaki oleh Allah”. (H.R. Muslim).
“Telah berkata Ummu Hani : Rasulullah SAW pernah pergi mandi, dan dilindungi oleh Fatimah, kemudian ia ambil kainnya, lalu berselimut dengan itu, kemudian ia sembahyang delapan rakaat, sembahyang Dhuha”. (Riwayat Bukhari Muslim 318 - Pengajaran Shalat).
Memang SHALAT DHUHA merupakan keistimewaan yang luar biasa, sebab manusia akan merasa berat dan bahkan terlalu berat disaat-saat yang tanggung untuk berangkat kerja atau sedang kerja (sekitar jam 7 hingga jam 11), dia menyempatkan diri dulu buat melakukan shalat sunnat tersebut.
Padahal dirasa berat hanyalah apabila belum biasa dan belum tahu keistimewaannya. Lain halnya dengan orang yang sudah tahu keistimewaannya dan imannya pun cukup kuat, tentu walau bagaimanapun keadaannya, apakah dia mau berangkat, ataukah sedang dikantor, tentu ia mengutamakan shalat itu barang sebentar, ia merasa sayang akan keutamaan ridha Allah yang ada pada shalat tersebut.
Keutamaan shalat DHUHA dalam pahalanya memadai buat mensucikan seluruh anggota tubuh yang padanya ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sebagimana keterangan Rasulullah SAW bahwa setiap persendian itu ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sedang dengan tasbih, tahmid, takbir dan amar ma’ruf nahyil munkar, cukuplah memadai buat kafarat kepada haq tersebut. Tapi semua itu cukuplah memadai dengan shalat DHUHA dua rakaat :
“Dari Abu Huraerah ridliyallhu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda :
~Pada tiap-tiap persendian itu ada shadaqahnya,
~setiap tasbih adalah shadaqah,
~setiap tahmid adalah shadaqah,
~setiap tahlil adalah shadaqah,
~setiap takbir adalah shadaqah (bacaanya : SUBHANALLAH/MAHA SUCI ALLAH, ALHAMDULILLAH/SEGALA PUJI BAGI ALLAH, LAA ILAHA ILLALLAHU/TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, ALLHU AKBAR/ALLAH MAHA BESAR),
~setiap amar ma’ruf nahyil munkar itu shadaqah. Dan cukuplah memadai semua itu dengan memperkuat/melakukan dua rakaat shalat dhuha” (Riwayat Muslim - Dalilil Falihin Juz III, hal 627).
Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa shalat empat rakaat dipagi hari, Allah bakal menjamin dan mencukupkan segalanya dengan limpahan barakah sepanjang hari itu, sehingga bathinpun akan terasa damai walau apapun tantangan hidup yang merongrong, karena dia telah sadar semua itu ketetapan Allah :
“Hai anak Adam, tunaikanlah kewajibanmu untuk KU, yaitu sembahyang empat rakaat pada pagi hari, niscaya Aku akan mencukupi sepanjang harimu (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Ya’la).
Dengan lafadz lain berbunyi :
“Hai anak Adam, bersembahyanglah untuk KU empat rakaat pada pagi hari, aku akan mencukupimu sepanjang hari itu” (Riwayat Ahmad dari Abi Murrah).
Coba renungkankan isi daripada do’a setelah shalat dhuha itu, nadanya seolah-olah memaksa untuk diperkenankan oleh Allah. Dan memang demikianlah lafadz do’a tersebut diajarkan oleh Rasulullah SAW :
“Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha (milik) Mu, kecantikan ialah kencantikan (milik) Mu, keindahan itu keindahan (milik) Mu, kekuatan itu kekuatan (milik) Mu, kekuasaan itu kekuasaan (milik) Mu, dan perlindungan itu perlindungan Mu”.
Ya Allah, jika rizqiku masih diatas langit, turunkanlah (berlafadz perintah), dan jika ada di didalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba Mu yang shaleh”.
Itulah keistimewaan dan keutamaan shalat DHUHA, didunia memberikan keberkahan hidup kepada pelakunya, diakheratpun /di hari kiamat orang itu dipanggil/dicari Tuhan untuk dimasukkan ke dalam syurga, sebagaimana sabda Nya didalam hadits qudsi :
“Sesungguhnya di dalam syurga, ada pintu yang dinamakan pintu DHUHA, maka ketika datang hari kiamat memanggillah (yang memanggil Allah), dimanakah orang yang selalu mengerjakan sembahyang atas Ku dengan sembahyang DHUHA? inilah pintu kamu, maka masuklah kamu ke dalam syurga dengan rahmat Allah”. (Riwayat Thabrani dari Abu Huraerah).
Orang yang suka memulai di pagi harinya dengan menyebut dan mengagungkan Allah dengan melakukan shalat dhuha yakni shalat sunnat dua rakaat sekali, dua kali, tiga kali atau empat kali sesudah naik matahari kira-kira antara jam 7 sampai dengan jam 11, Allah SWT akan menjamin baginya dengan jaminan istimewa di dunia dan akhirat.
Perbuatan tersebut adalah kebiasaan yang dilakukan Rasulullah SAW selama hidupnya, sebagaimana beberapa keterangan antara lain :
“Telah berkata Abu Huraerah : Kekasih saya, (Nabi Muhammad SAW) telah berwasiat tiga perkara kepada saya, yaitu puasa tiga hari tiap-tiap bulan, sembahyang dhuha dua rakaat dan sembahyang witir sebelum tidur”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari Muslim).
“Ada orang bertanya kepada Aisyah : Adakah Rasulullah SAW sembahyang dhuha? Jawabnya : Ada, empat rakaat, dan terkadang ia tambah yang dikehendaki oleh Allah”. (H.R. Muslim).
“Telah berkata Ummu Hani : Rasulullah SAW pernah pergi mandi, dan dilindungi oleh Fatimah, kemudian ia ambil kainnya, lalu berselimut dengan itu, kemudian ia sembahyang delapan rakaat, sembahyang Dhuha”. (Riwayat Bukhari Muslim 318 - Pengajaran Shalat).
Memang SHALAT DHUHA merupakan keistimewaan yang luar biasa, sebab manusia akan merasa berat dan bahkan terlalu berat disaat-saat yang tanggung untuk berangkat kerja atau sedang kerja (sekitar jam 7 hingga jam 11), dia menyempatkan diri dulu buat melakukan shalat sunnat tersebut.
Padahal dirasa berat hanyalah apabila belum biasa dan belum tahu keistimewaannya. Lain halnya dengan orang yang sudah tahu keistimewaannya dan imannya pun cukup kuat, tentu walau bagaimanapun keadaannya, apakah dia mau berangkat, ataukah sedang dikantor, tentu ia mengutamakan shalat itu barang sebentar, ia merasa sayang akan keutamaan ridha Allah yang ada pada shalat tersebut.
Keutamaan shalat DHUHA dalam pahalanya memadai buat mensucikan seluruh anggota tubuh yang padanya ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sebagimana keterangan Rasulullah SAW bahwa setiap persendian itu ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sedang dengan tasbih, tahmid, takbir dan amar ma’ruf nahyil munkar, cukuplah memadai buat kafarat kepada haq tersebut. Tapi semua itu cukuplah memadai dengan shalat DHUHA dua rakaat :
“Dari Abu Huraerah ridliyallhu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda :
~Pada tiap-tiap persendian itu ada shadaqahnya,
~setiap tasbih adalah shadaqah,
~setiap tahmid adalah shadaqah,
~setiap tahlil adalah shadaqah,
~setiap takbir adalah shadaqah (bacaanya : SUBHANALLAH/MAHA SUCI ALLAH, ALHAMDULILLAH/SEGALA PUJI BAGI ALLAH, LAA ILAHA ILLALLAHU/TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, ALLHU AKBAR/ALLAH MAHA BESAR),
~setiap amar ma’ruf nahyil munkar itu shadaqah. Dan cukuplah memadai semua itu dengan memperkuat/melakukan dua rakaat shalat dhuha” (Riwayat Muslim - Dalilil Falihin Juz III, hal 627).
Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa shalat empat rakaat dipagi hari, Allah bakal menjamin dan mencukupkan segalanya dengan limpahan barakah sepanjang hari itu, sehingga bathinpun akan terasa damai walau apapun tantangan hidup yang merongrong, karena dia telah sadar semua itu ketetapan Allah :
“Hai anak Adam, tunaikanlah kewajibanmu untuk KU, yaitu sembahyang empat rakaat pada pagi hari, niscaya Aku akan mencukupi sepanjang harimu (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Ya’la).
Dengan lafadz lain berbunyi :
“Hai anak Adam, bersembahyanglah untuk KU empat rakaat pada pagi hari, aku akan mencukupimu sepanjang hari itu” (Riwayat Ahmad dari Abi Murrah).
Coba renungkankan isi daripada do’a setelah shalat dhuha itu, nadanya seolah-olah memaksa untuk diperkenankan oleh Allah. Dan memang demikianlah lafadz do’a tersebut diajarkan oleh Rasulullah SAW :
“Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha (milik) Mu, kecantikan ialah kencantikan (milik) Mu, keindahan itu keindahan (milik) Mu, kekuatan itu kekuatan (milik) Mu, kekuasaan itu kekuasaan (milik) Mu, dan perlindungan itu perlindungan Mu”.
Ya Allah, jika rizqiku masih diatas langit, turunkanlah (berlafadz perintah), dan jika ada di didalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba Mu yang shaleh”.
Itulah keistimewaan dan keutamaan shalat DHUHA, didunia memberikan keberkahan hidup kepada pelakunya, diakheratpun /di hari kiamat orang itu dipanggil/dicari Tuhan untuk dimasukkan ke dalam syurga, sebagaimana sabda Nya didalam hadits qudsi :
“Sesungguhnya di dalam syurga, ada pintu yang dinamakan pintu DHUHA, maka ketika datang hari kiamat memanggillah (yang memanggil Allah), dimanakah orang yang selalu mengerjakan sembahyang atas Ku dengan sembahyang DHUHA? inilah pintu kamu, maka masuklah kamu ke dalam syurga dengan rahmat Allah”. (Riwayat Thabrani dari Abu Huraerah).
Hikmah berbakti kepada kedua orang tua
Hikmah berbakti kepada kedua orang tua
Selain seorang nabi, Sulaiman AS. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah ia berhasil menundukkan Ratu Balqis dengan jin ifrit-Nya. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar. Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu.
Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. DI sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman. Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu heran, “Kubah apakah gerangan ini?” fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.
“Siapakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?” tanya Nabi Sulaiman keheranan. “Aku adalah manusia”, jawab pemuda itu perlahan. “Bagaimana engkau meiliki karomah semacam ini?” tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.
Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit. “Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya.” Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu. “Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?” tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut. “Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah.”
“Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?” “Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.” “Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?” tanya Nabi Sulaiman AS yang merasa semakin heran. “Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam.” Tuturnya.
Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
Selain seorang nabi, Sulaiman AS. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah ia berhasil menundukkan Ratu Balqis dengan jin ifrit-Nya. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar. Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu.
Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. DI sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman. Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu heran, “Kubah apakah gerangan ini?” fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.
“Siapakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?” tanya Nabi Sulaiman keheranan. “Aku adalah manusia”, jawab pemuda itu perlahan. “Bagaimana engkau meiliki karomah semacam ini?” tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.
Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit. “Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya.” Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu. “Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?” tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut. “Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah.”
“Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?” “Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.” “Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?” tanya Nabi Sulaiman AS yang merasa semakin heran. “Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam.” Tuturnya.
Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
Rasulullah dan Pengemis Yahudi Buta
Rasulullah dan Pengemis Yahudi Buta
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.
Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.
Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.
Menyelami Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar
Menyelami Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar
tasbih Bacaan tasbih, tahmid dan takbir merupakan bacaan-bacaan terpuji (kalimah thoyyibah). Untuk dapat menghayati ketiga dzikir di atas mari kita tinjau pengertian dari masing-masing kalimah di atas:
Subhanallah : Maha Suci (Engkau) Allah
dalam kita berdialog dengan Allah, baik dalam sholat maupun dalam dzikir, puji-pujian, yang perlu kita tekankan ada plus (+) dan minus (-). plus di sisi Allah minus di sisi kita, hambaNya. Kalau di dalam sholat, mengingat waktunya singkat, di saat kita baca diusahakan dalam benak kita langsung terlintas dan dirasakan ke-Maha SucianNya (dari sifat lemah, salah, butuh dll) dan pengakuan sifat lemah kita, salah dan butuh kita padaNya. 2 task sekali waktu (berbarengan)
Saat kita baca subhanallah….dg teringat tafsirnya, kita paparkan dalam hati….Maha Suci Engkau Ya Allah, hanya Engkaulah yang suci, diriku kotor ya Allah…
Subhanallah… Maha Suci Engkau dari sifat lemah, sedang kekuatanku tiada apa-apanya di hadapanMu…
subhanallah… Maha Suci Engkau dari mendlolimi, akulah hambaMu yang dlolim…
Alhamdulilllah : segala puji untuk(mu) Allah
kata ” li” dalam bahasa arab, utk bacaan tahmid bisa berarti untuk, bisa juga berarti milik. Alhamdulillah = segala puji hanya untukMu ya Allah, atau segala puji hanya milikMu. Mari kita tengok ke dalam diri kita, ketika kita mendapat nikmat, atau kabar gembira, saat kita mengucap alhamdulillah, yg terpikir di benak kita itu kita memuji Allah karena telah memberi nikmat atau kabar gembira saja, ataukah ada penjabaran yang lain. Dalam hampir semua tulisan-tulisan sebelumnya penjabaran itu selalu saya kedepankan, karena dari penjabaran itulah RASA bisa hadir, pemahaman dan keyakinan menjadi kuat. Misal ketika kita mendapat rizki tambahan, terucap Alhamdulillah… di hati dan pikiran kita spontan berkata : Terimakasih Ya Allah, segala puji hanya untukMu Wahai Tuhan yang Maha pemurah, Maha tahu akan kebutuhanku, Maha bijaksana dalam semua ketetapan-ketetapanMu, dst…..
Ada hal lain yang bisa dipraktekkan agar “Alhamdulillah” bisa mencegah kita dari “kibr” alias sombong, terutama ketika mendengar pujian dari orang lain. Yaitu kita langsung menterjemahkan nya menjadi : Segala puji hanya milikMu Ya Allah, bukan milikku. Ketampanan/kecantikan (misal orang memuji ketampanan/kecantikan kita) ini milikMu Ya Allah, kepandaian ini milikMu Ya Allah tak pantas aku menyombongkannya dan merasa besar diri di hadapanMu ataupun dihadapan yg lain.
Allahu Akbar : Allah Maha Besar
Kata “Akbar” merupakan bentuk “the most” dari Kabir, yang artinya besar; maka artinya paling besar, karena untuk Tuhan menjadi Maha Besar. Dalam konteks yang lain berdasar Wazan nya kata Akbar juga bisa berarti lebih besar.
Saat kita ucapkan Allahu Akbar, terucap juga dalam diri kita: “Ya Allah… Engkau yg Maha besar, aku kecil ya Allah, tidak ada seper-berapa-punnya dibandingkan Engkau…Kalau kulihat diriku dan luas tanah lapang yg ada didepanku sudah tak berbanding, apalagi diukur dengan luas seluruh daratanMu di bumi, langitMu…, sistem tata surya…, gugusan-gugusan galaksi…. Ohh…Ya Huw…. Allaahu Akbar… Sungguh besar kekuasaanMu yg telah menciptakan alam jagad yang Maha besar, kutundukkan diriku, pasrah akan segala ketetapanMu. dst… “
Dzat Allah hanya Allah yg tahu, dan kita dilarang untuk memikirkannya. Kita dianjurkan untuk memikirkan ciptaan-ciptaanNya untuk mengambil ‘ibroh atau pelajaran darinya, yang mendekatkan pemahaman kita akan ke-Maha-an Allah.
Wallahu a’lam bishshowab.
(sumber: kylas.wordpress.com/2008/02/19/menyelami-subhanallah-alhamdulillah-dan-allahu-akbar/)
tasbih Bacaan tasbih, tahmid dan takbir merupakan bacaan-bacaan terpuji (kalimah thoyyibah). Untuk dapat menghayati ketiga dzikir di atas mari kita tinjau pengertian dari masing-masing kalimah di atas:
Subhanallah : Maha Suci (Engkau) Allah
dalam kita berdialog dengan Allah, baik dalam sholat maupun dalam dzikir, puji-pujian, yang perlu kita tekankan ada plus (+) dan minus (-). plus di sisi Allah minus di sisi kita, hambaNya. Kalau di dalam sholat, mengingat waktunya singkat, di saat kita baca diusahakan dalam benak kita langsung terlintas dan dirasakan ke-Maha SucianNya (dari sifat lemah, salah, butuh dll) dan pengakuan sifat lemah kita, salah dan butuh kita padaNya. 2 task sekali waktu (berbarengan)
Saat kita baca subhanallah….dg teringat tafsirnya, kita paparkan dalam hati….Maha Suci Engkau Ya Allah, hanya Engkaulah yang suci, diriku kotor ya Allah…
Subhanallah… Maha Suci Engkau dari sifat lemah, sedang kekuatanku tiada apa-apanya di hadapanMu…
subhanallah… Maha Suci Engkau dari mendlolimi, akulah hambaMu yang dlolim…
Alhamdulilllah : segala puji untuk(mu) Allah
kata ” li” dalam bahasa arab, utk bacaan tahmid bisa berarti untuk, bisa juga berarti milik. Alhamdulillah = segala puji hanya untukMu ya Allah, atau segala puji hanya milikMu. Mari kita tengok ke dalam diri kita, ketika kita mendapat nikmat, atau kabar gembira, saat kita mengucap alhamdulillah, yg terpikir di benak kita itu kita memuji Allah karena telah memberi nikmat atau kabar gembira saja, ataukah ada penjabaran yang lain. Dalam hampir semua tulisan-tulisan sebelumnya penjabaran itu selalu saya kedepankan, karena dari penjabaran itulah RASA bisa hadir, pemahaman dan keyakinan menjadi kuat. Misal ketika kita mendapat rizki tambahan, terucap Alhamdulillah… di hati dan pikiran kita spontan berkata : Terimakasih Ya Allah, segala puji hanya untukMu Wahai Tuhan yang Maha pemurah, Maha tahu akan kebutuhanku, Maha bijaksana dalam semua ketetapan-ketetapanMu, dst…..
Ada hal lain yang bisa dipraktekkan agar “Alhamdulillah” bisa mencegah kita dari “kibr” alias sombong, terutama ketika mendengar pujian dari orang lain. Yaitu kita langsung menterjemahkan nya menjadi : Segala puji hanya milikMu Ya Allah, bukan milikku. Ketampanan/kecantikan (misal orang memuji ketampanan/kecantikan kita) ini milikMu Ya Allah, kepandaian ini milikMu Ya Allah tak pantas aku menyombongkannya dan merasa besar diri di hadapanMu ataupun dihadapan yg lain.
Allahu Akbar : Allah Maha Besar
Kata “Akbar” merupakan bentuk “the most” dari Kabir, yang artinya besar; maka artinya paling besar, karena untuk Tuhan menjadi Maha Besar. Dalam konteks yang lain berdasar Wazan nya kata Akbar juga bisa berarti lebih besar.
Saat kita ucapkan Allahu Akbar, terucap juga dalam diri kita: “Ya Allah… Engkau yg Maha besar, aku kecil ya Allah, tidak ada seper-berapa-punnya dibandingkan Engkau…Kalau kulihat diriku dan luas tanah lapang yg ada didepanku sudah tak berbanding, apalagi diukur dengan luas seluruh daratanMu di bumi, langitMu…, sistem tata surya…, gugusan-gugusan galaksi…. Ohh…Ya Huw…. Allaahu Akbar… Sungguh besar kekuasaanMu yg telah menciptakan alam jagad yang Maha besar, kutundukkan diriku, pasrah akan segala ketetapanMu. dst… “
Dzat Allah hanya Allah yg tahu, dan kita dilarang untuk memikirkannya. Kita dianjurkan untuk memikirkan ciptaan-ciptaanNya untuk mengambil ‘ibroh atau pelajaran darinya, yang mendekatkan pemahaman kita akan ke-Maha-an Allah.
Wallahu a’lam bishshowab.
(sumber: kylas.wordpress.com/2008/02/19/menyelami-subhanallah-alhamdulillah-dan-allahu-akbar/)
Langganan:
Postingan (Atom)