Sabtu, 12 Desember 2009

Adab Dalam Berwudhu Dan Bersuci

Oleh Syeikh Abu Nashr as-Sarraj
Syekh Abu Nashr as-Sarraj r.a berkata:
“Adab paling awal yang dibutuhkan dalam bab wudhu dan bersuci adalah mencarl ilmunya dan mempelajarinya, mengetahui tentang fardlu dan yang sunnah-sunnahnya, apa yang dianjurkan dan yang dimakruhkan, apa yang diperintahkan dan yang dianjurkan untuk memperoleh keutamaan”.

Tentu saja untuk mengetahui dan memahaminya secara rinci tidak mungkin kecuali dengan ilmu dan bertanya, membahas dan memiliki perhatian yang serius, sehingga ia bisa melakukan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah dengan cara lebih berhati-hati mengikuti yang paling baik dan paling sempurna, menghilangkan hal-hal yang bisa saling mencela, tidak mengingkari secara hati nurani terhadap orang yang tidak menggunakan cara yang lebih berhati-hati dan yang paling baik. Sebab Aliah tetap senang biia keringanan-keringanan hukum (rukhshah)-Nya dilakukan sebagaimana Dia mencintai bila hukum-hukum asal (azimah-Nya) tetap dilakukan secara normal. Sementara itu, manusia yang iain memiliki kesibukan dan sebab-sebab yang harus dikerjaka dan diberi perhatian. Sehingga apabiia mereka menggunakan keringanan dan mengambil kelonggaran mereka pun tetap dimaafkan.

Adapun kaum Sufi dan orang-orang yang meninggalkan sebab akibat dunia, keluar dari segaja kesibukan serta mencurahkan dirinya untuk beribadah dan berzuhud, (karena bimbingan tertentu dari Mursyidnya, pent) maka tidak ada alasan bagi mereka untuk meninggalkan hal yang paling baik, paling bersih dan memperhatikan bagian-bagian anggota wudhu secara sempurna dan maksimal, berpegang teguh pada tindakan yang paling berhati-hati dan paling sempurna dalam bersuci dan soal kebersihan.

Barangsiapa tidak memiliki kesibukan selain itu, maka ia wajib curahkan segala kemampuan untuk melakukannya sesuai dengan kemampuannya. Sebab Allah swt. berfirman, “Maka bertaqwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian (semaksimal kalian).” (Q.s. at-Taghaabun:16).

Saya melihat sejumlah manusia yang selalu memperbarui wudhunya setiap kali shalat. Mereka segera berwudhu sebelum masuk waktu shalat, sehingga setelah selesai berwudhu mereka langsung shalat.
Diantara adab mereka adalah selalu berada dalam kondisi suci jika dalam perjalanan. Sebab yang menjadi landasan dasarnya karena mereka tidak tahu kapan kematian datang menjemput.

Firman Allah swt., “Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan juga tidak dapat memajukannya.“ (Q.s. al-A’raf. 34).
Sehingga mereka berharap, ketika ajal menjemputnya secara mendadak, mereka tinggalkan dunia ini dalam keadaan suci.
Saya pernah mendengar
al-Hushri r.a, berkata, Kadang saya pernah bangun tidur di suatu malam, lalu saya tidak tidur kembali kecuali setelah memperbarui wudhuku.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj r.a berkata: Sebab ia tidur dalam keadaan suci. Ketika ia bangun tidur dan wudhunya telah batal maka ia segera memperbaruinya. Ia telah latih untuk tidak tidur kecuali dalam keadaan suci.

Ada salah seorang syeikh yang masyhur dan terpandang selalu merasakan was-was ketika sedang berwudhu, sehingga ‘banyak menuangkan air saat berwudhu. Kemudian saya mendengarnya berkata, “Suatu malan aku memperbarui wudhuku untuk shalat Isya’. Aku menuangkan air ke bagian tubuhku sehingga menghabiskan separo malam. Namun hatiku belum juga yakin dan rasa was-was tidak juga hilang. Kemudian aku menangis dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku.’ Ialu aku mendengar bisikan suara, “Wahai fulan, ampunan itu diberi jika ilmu digunakan!.”

Abu Nashr adalah Abu Abdillah ar-Rudzbari rahimahullah - berkata: Dikatakan bahwa syetan selalu ingin mengambil bagiannya dari seluruh amal (kegiatan) anak cucu Adam. ia tidak peduli apakah dengan mengambil bagian itu menyebabkan anak cucu Adam bertambah banyak melakukan yang diperintah atau malah berkurang.
Disebutkan dari Ibnu al-Kurraini, salah seorang guru al-Junaid bahwa suatu malam ia pernah junub. Ia mengenakan pakaian bertambal yang kasar dan tebal, dimana pakaian ini satu-satunya pakaian yang paling berharga ketika di sisi Ja’far al-Khuldi. Kemudian di malam hari ia pergi menuju pinggir sungai. Sementara cuaca pada malam itu sangat dingin, sehingga nafsunya mogok untuk mencebur ke dalam air karena sangat dingin. Namun akhirnya ia menceburkan diri ke dalam air dengan pakaian tebal yang ia kenakan tersebut. ia terus berendam di dalam air beberapa lama ia berkata, ‘Aku berniat untuk tidak melepaskan baju ini dari tubuhku sehingga ia kering.” Ternyata baju tebal yang ia kenakan itu tidak kering selama sebulan penuh. Apa yang ia lakukan adalah sebagai pelajaran dan melatih diri (nafsu)nya, karena ia mogok ketika mau menjalankan apa yang diperintah Allah untuk mandi junub.
Sahl bin Abdullah - rahimahullah - menganjurkan para sahabatnya untuk banyak minurn air dan tidak banyak menumpah air di atas tanah. Ia berkata, “Sesungguhnya air itu memiliki kehidupan. Ia akan mati ketika ditumpahkan di atas tanah.” Katanya, dengan banyak minum air akan melemah nafsu, mamatikan kesenangan nafsu dan mematahkan kekuatnya.

Abu Amr Muhammad bin Ibrahim az-Zujaji pernah bermukim di Mekkah dalam waktu beberapa tahun, di mana tempat bermukim berada di perbatasan dengan tanah halal. Setiap ingin buang hajat ia keluar dari perbatasan tanah haram sejauh satu farsakh ( 8 km-an), sebagaimana cerita yang saya terima ia tak pernah buang hajat di tanah haram selama 30 tahun.

Sementara itu, Ibrahim al-Khawwash - r.a, ketika hendak masuk di daerah pedalaman ia selalu membawa tempat air (dari kulit) yang diisi air. la hanya minum sedikit dari persedian air tersebut, karena ia mempersiapkannya untuk berwudhu.
lebih mengutamakan bisa berwudhu dengan air daripada Minumnya. meskipun sangat haus.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj - r.a - berkata: Aku melihat sekelompok orang Sufi berjalan di tepi sungai. Sementara mereka tidak bisa meninggalkan tempat air dari kulit atau kendi berisikan air. Hal ini dilakukan agar ketika mereka keburu ingin kencing dan tidak memungkinkannya duduk di tepi sungai dalam kondisi aurat terbuka dan bisa dilihat oleh orang, maka dengan persiapan air yang ada di kendi atau tempat dari kulit mereka akan mudah mencari tempat yang sepi, sehingga, tindakan itu bisa lebih melindungi diri mereka.
Merekajuga sangat tidak suka memijit-mijit kemaluannya saat tak mampu menahan buang air kecil. Sebab akan bisa mengendorkan otot-otot yang berfungsi menahan kencing. jika sering dipijit maka akan tidak mampu menahan air kencing, dan mengakibatkan sering buang air kecil dalam kadar sedikit (beser).
Mereka juga tidak suka menahan kencing kecuali memang dalam kondisi sulit mencari air dan sangat terpaksa. Saya lebih suka mengenakan celana ketimbang mengenakan sarung setelah bersuci. Sementara sarung lebih gampang dilepas ketika mau lakukan apa saja.
Mereka juga menghindari mengenakan apa saja yang dilubangi dengan bulu babi, baik itu sedikit atau banyak, kering atau basah. oleh karenanya mereka lebih suka memakai sandal.

Dikatakan jika Anda melihat seorang Sufi yang tidak membawa bekal air, maka Anda perlu tahu, bahwa la berniat meninggalkan shalat dan siap menyingkap aurat, baik itu ia kehendaki atau tidak.
Saya pernah melihat seseorang yang tinggal di tengah-tengah jamaah para ahli lbadah. Mereka berkumpul dalam satu rumah. Tapi tak seorang pun dari mereka yang melihatnya masuk atau keluar dari tempat buang air besar. Ia telah membiasakan dan melatih dirinya untuk buang air besar atau kecil dalam satu waktu, yaitu ketika ia sedang sendirian dan sepi tidak ada orang sehingga tidak ada orang yang melihatnya ia masuk atau keluar dari tempat tersebut.

Saya juga melihat seorang Sufi yang melatih dan membill dirinya untuk tidak kentut kecuali saat buang air besar di tempat yang sangat terpencil. Sementara ia tinggal di pedalaman dan tempat sepi. Sementara itu, Ibrahim al-Khawwash – r.a, pernah keluar dari Mekkah ke Kufah sendirian. Selama dalam perjalanan ia tidak pernah melakukan tayamum, karena ia membawa air minum yang kemudian ia gunakan untuk berwudhu.

Sekelompok syeikh Sufi sangat tidak suka masuk tempat pemandian umum kecuali benar-benar sangat terpaksa. Jika terpaksa harus melakukannya, maka mereka menunggu sampai sepi tiada orang. Dan jika mereka masuk di tempat pemandian, maka tidak melepas sarungnya sampai mereka keluar. Mereka tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melihat.

Mereka selalu meminta agar air selalu didekatkan. Dan jika mereka berada dalam satu rombongan mereka saling menggosok badan. Jika dalam tempat mandi ada orang lain maka mereka akan menghadap tembok hingga matanya tidak melihat aurat yang lain.

Kalangan kaum Sufi tidak memperkenankan orang lain masuk bersamanya di tempat mandi kecuali harus memakai sarung.
Dan di antara hal-hal yang dianjurkan adaah mencabuti bulu ketiak dan mencukur rambut kemaluan. Sementara orang yang tidak bisa mencukurnya dengan baik dianjurkan untuk membuat ramuan obat yang bisa menghilangkan bulu dan dilakukan di tempat yang sepi.
Murid-murid Sahl bin Abdullah, antara yang satu dengan lain saling mencukur atau memotong rambutnya.

Saya mendengar Isa al-Qashshar ad-Dinawari - r.a, berkata, “Orang yang pertama kali memotong kumisku dengan tangannya sendiri adalah asy-Sybli. Saat itu aku menjadi pembantunya.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj- r.a, berkata: Menyisir rambut dengan dibelah di tengah kepala menjadikan pilihan jamaah kaum Sufi, namun hal itu dimakruhkan untuk para pemuda. Ini amat baik bagi para syeikh jika mereka melakukannya demi mengikuti sunnah.

Sebagian syeikh Sufi mengatakan: Anggaplah bahwa kefakiran dari Allah. Lalu apa hubungannya dengan kekumuhan? Sementara yang paling disenangi kaum Sufi adalah kebersihan, mencuci pakaian, selalu membiasakan gosok gigi (siwak), mencari air yang mengalir, lapangan terbuka yang luas, dan yang ada di sudut-sudut kota, suka menyendiri di tempat (khalwat), mandi setiap hari jumat, baik di musim kemarau di musim penghujan. Mereka juga menyukai wangi-wangian, dan sebaik-baiknya “minyak wangi” adalah air yang mengalir. Mereka selalu mandi, memperbarui wudhu dan menyempurnakannya.

Bukanlah kategori was-was seseorang yang berusaha suci semaksimal mungkin dengan cara menjauh dan mencari air mengalir meskipun ia tempuh dalam perjalanan yang jauh. Juga bukanlah termasuk was-was jika seseorang mendapatkan air yang telah berubah dengan mencari tempat-tempat yang suci, dan menyiramkan air bersih pada anggota tubuh bagian dalam dan kulit sela-sela anggota tubuh bagian dalam, bagian-bagian kulit mengkerut, menghirupnya hingga mencapai ujung hidung dan menuangkan air pada seluruh anggota tubuh, bagian kulit, baik saat berwudlhu atau mandi dan bersuci lainnya.

Juga tidak masuk dalam kategori was-was yang dilarang orang yang berhati-hati dan mencari yang paling suci dalam meniti keutamaan. Sebab semua itu masuk dalam lingkaran firman Allah swt., “Maka bertaqwalah kalian kepada Allah semaksimal kemampuan kalian.” (Q.s. at-Taghabun: 16).

Sedangkan was-was yang dilarang oleh syariat ialah yang menjadikan Anda keluar dari ketentuan ilmu. Yaitu jika Anda disibukkan dengan lbadah-lbadah yang bersifat keutamaan (sunnah) dengan meninggalkan lbadah-lbadah fardlu. Demikian halnya jika menyalahi aturan keilmuan. Maka batallah shalat seseorang yang berwudhu dengan hanya satu cibuk, cibuk pula.

Sementara itu tindakan yang benar ialah bila seorang hanya melakukan sesuai dengan waktu dan kondisi dirinya. Jika ia ingin dapatkan air yang melimpah, maka ia berwudhu dengan cukup sempurna dengan lebih berhati-hati sehingga hatinya menjadi tenang. Jika ia tidak mendapatkan air yang cukup, maka sebaliknya ia memperbarui wudhunya dan bersuci dengan air yang sedikit, sebagaimana diriwayatkan, bahwa sahabat-sahabat Rasulullah selalu berwudhu dengan air yang tidak bercampur debu.

Syeikh Abu Nashr as-Sarrai - r.a, berkata: Saya pernah melihat seorang Sufi yang di wajahnya ada luka yang tak kunjung sembuh dalam waktu dua belas tahun, sebab air selalu membasahi lukanya. Sementara ia tidak pernah meninggalkan memperbarui wudhunya setiap kali shalat.

Saya juga melihat seorang Sufi yang kedua matanya selalu meneteskan air. Keluarganya mendatangkan seorang dokter untuk mengobatinya. Mereka telah mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatannya. Dokter berkata, “Ini bisa sembuh jika tidak sentuh air air dalam beberapa hari dan hendaknya tidur telentang.” Si Sufi ini tidak mau melakukan apa yang dianjurkan dokter, memilih lebih baik penglihatannya hilang daripada diperintahkan meninggalkan wudhu dan bersuci dengan air. Si Sufi ini tidak lain adalah Abu Abdillah Muhammad ar-Razi al-Muqri’i.

Diriwayatkan, bahwa Ibrahim bin Adham - r.a, punya tugas malam, di mana ia semalam bangun tujuh kali lebih. Dan setiap kali bangun ia selalu memperbarui wudhunya kemudian shalat dua rakaat.
Sementara itu, Ibrahim al-Khawwash wafat di masjid jami’ Rayy saat berada di tengah-tengah air. Saat itu ia sakit perut, kemudian menceburkan diri ke dalam air dan memandikan diri dan akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Inilah yang sempat saya ingat saat ini tentang adab kaurn Sufi dalam masalah wudhu dan bersuci. Semoga Aliah senantiasa memberi taufiq kepada kita.
Amin.

Sumber : www.sufinews.com

Amalan Bulan Rajab



Amalan Bulan Rajab


Diantara 5 waktu yang paling mustajab untuk berdoa adalah :

1. Malam tanggal 1 dibulan rajab

2. Malam tanggal 15 di bulan Sya’ban (Nisfu Sya’ban)

3. Malam Jum’at

4. Malam Iedul Fitri

5. Malam Iedul Adha

Amalan yang sebaiknya di lakukan pada bulan rajab yaitu :

1. Bertawasul pada malam tanggal 1 rajab dan puasa pada siang harinya.

2. Berpuasa pada hari kamis pertama di bulan rajab.

3. Kemudian malamnya (malam jum’at) ber tawasul kepada Allah SWT dengan menjalankan qiyyamul lail (sholat malam) sebanyak 12 rokaat, yang dilakukan per 2 rokaat salam. Dimana pada rokaat pertama setelah membaca fatehah membaca surat al-Qodr (Inna angzalnaa hu fii lailatil qodr … sampai selesai) sebanyak 7 x kemudian pada rokaat ke dua setelah fatihah membaca surat Al-Ikhlas (kul huwalloohu ahad …. sampai selesai) sebanyak 12 x. Demikian juga dua rokaat - dua rokaat berikutnya. Setelah selesai sholat 2 rokaat x 6 (12 rokaat) kemudian habis salam dilanjutkan dengan membaca

sholawat sebanyak 70 x

melakukan sujud dengan bacaan “Subkhanal malikil qudduuss, quddusun robbuna wa robbul malaaikati warruuh” dibaca sebanyak 70 x

Bangun dari sujud membaca istighfar “Astaghfirulloohal ‘adzim aladzilaa ilaa ha illa huwal hayyul qoyyumu wa atuu bu illaih” dibaca sebanyak 70 x

kemudian sujud lagi dengan bacaan “Subkhanal malikil qudduuss, quddusun robbuna wa robbul malaaikati warruuh” dibaca sebanyak 70 x

Kemudian bangun dari setelah sujud dilanjutkan berdoa, dengan doa bebas sesuai dengan cita-cita dan harapan masing-masing. Tentunya dengan diawali dengan memohon ampunan terhadap dosa-dosa yang telah kita lakukan atas diri kita dan orang tua kita, baru kemudian dilanjutkan dengan permohonan kepada Allah SWT sesuai dengan apa yang kita harapkan, ada baiknya doa di panjatkan dengan bahasa yang kita fahami (bahasa indonesia / bahasa jawa) dan tidaklah berdoa untuk kejelekan orang lain.

Demikian ijazah ini saya terima dari Syaikh Muhammad Adib Annas Nur Fathoni Al Qoundaly (ghoffarolloohu lana) saat ngaji selosonan di majelis washilatul huda. Dan telah mendapatkan idzin untuk di sharing secara umum.

Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Impian Itu Jadi Kenyataan



Impian Itu Jadi Kenyataan

under Sedekah memberi

Sangat mudah bagi Allah untuk kondisi seseorang. Dari miskin menjadi kaya, dari susah menjadi senang, dari kurang menjadi cukup. Semudah Dia mengubah menjadi gelapnya malam, terangnya siang.

”KALAU uang buat bayar kontrakan ini, kita sedekahin semua, bulan besok kita bakal tinggal di mana pak?”

Demikian pertanyaan sekaligus keluhan sang isteri kepada suaminya, Imam, seorang pengusaha catering kelas teri ya boleh disebut hanya pedagang nasi bungkus di pinggiran Sidoarjo, Jawa Timur.

”Bu, kata ustadz yang kita lihat di TV tadi itu, sedekah bisa menghadirkan pertolongan Allah, dengan bersedekah harta kita akan bertambah, bahkan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, tujuh ratus kali lipat bahkan berlipat ganda. Sudah banyak yang membuktikan keajaiban sedekah itu lho bu, masa kita nggak mau ikutan sukses seperti mereka,” jawab Imam meyakinkan istrinya.

”La iya pak, pengen sih, tapi kita besok tinggal di mana?” istrinya bertanya lagi
”Kita pindah saja ke rumah itu bu, biar saja Allah tahu bahwa dengan bersedekah kita malah diusir dari kontrakan ini, siapa tahu diusirnya ke rumah itu he, he, he,” jawab imam dengan candaan namun penuh keyakinan sambil menunjuk rumah mewah milik tetangga depan rumahnya yang pada saat itu tertulis iklan ”Rumah ini Dijual.”

Dengan penuh keyakinan dan kepasrahan total kepada Allah, akhirnya pasangan muda itu memberanikan diri untuk menyedekahkan uangnya yang hanya tinggal sejuta itu.

Mereka bangun malam berdua, dhuha bareng dan berdoa dengan doa yang sama, yaitu perubahan taraf hidup dan kehidupan, berharap agar Allah memberikan karunia berupa rezeki yang banyak, halal, baik, dan berkah.

Urusan rezeki urusan Allah. Siapkan saja diri untuk menerima rezeki-Nya. Menyiapkan diri untuk memperoleh rezeki-Nya adalah dengan berjalan lurus, beribadah yang benar, dan mau berbagi bila rezeki datang.

”Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (Az-Zumar: 52)

”Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan dia berbuat kebaikan, maka sungguh dia sudah berpegang kepada tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (Luqm‚n: 22)

Seminggu sudah saat istimewa yang mereka tunggu tak kunjung hadir, yaitu saat di mana Allah mengganti sedekah mereka dengan rezeki yang berlipat. Waktu terus berjalan, hingga sebulan sudah pascabersedekah. Hampir saja ia mencari nomor saya di stasiun tempat saya taushiyah, mau komplain bahwa saya telah membohonginya, buktinya hingga sebulan sedekahnya belum berbuah.

Hingga suatu hari ia didatangi oleh seorang utusan sebuah perusahaan yang sedang tertimpa musibah. ”Bapak sanggup nggak bikin nasi bungkus tiap hari buat kami?” Tanya si tamu kepada Imam.

”Sanggup, lha memang itu mah pekerjaan saya pak,” dengan tegas Imam menjawab.
”Beneran nih pak, sanggup?”

”Emang buat berapa orang tho pak?” ia malah balik bertanya dengan dialek Suroboyonya yang medhok.

”Ok, kalau bapak sanggup, silakan teken kontrak di atas kertas ini, bahwa bapak sanggup menyediakan nasi bungkus untuk 15.000 pengungsi yang menjadi tanggungan kami, sehari tiga kali makan, bila cocok maka kontrak ini akan diperpanjang, bagaimana pak?”

”Subhaanallaah…..” Imam hanya bertasbih sambil termangu seakan tak percaya dengan tawaran kerja sama itu. Saudara tahu berapa keuntungan yang ia keruk dari tender itu? 15000×3.000×3 = Rp 1,35 miliar.

Subhanallah… Allah memang ga pernah mengingkari janji-Nya. Rumah yang ia tunjuk tempo hari ternyata kini telah jadi miliknya karena kontrak kerja sama diperpanjang.
”Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah Maha Menyempitkan dan Melapangkan rezki dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al Baqarah[2]: 245)

Begitu Kuasanya Engkau, Engkau Kuasa menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup. Bahkan Engkau juga Kuasa mengadakan sesuatu dari yang tidak ada.
Begitu Kuasanya Engkau, di tangan-Mu kemuliaan dan kehinaan, kemajuan atau kemunduran. Dan di tangan-Mu juga pintu segala kebaikan.

Duhai Allah Yang Maha Tahu, pasti ada kesalahan ketika terselip di hati kesombongan dan kerentanan berputus asa. Kesalahan yang berwujud rendahnya kualitas kepercayaan akan kuasa Engkau. (46)

Sumber : www.suaramerdeka.com
Perhitungan Pembagian Zakat bagi Amil / BAZIS
from Anjani Maulaya Komputindo by masjamal

Contoh kasus :

Dalam suatu kampung dibentuk panitia pengumpulan zakat fitrah.
Setelah didata, diperoleh daftar mustahiq sebagai berikut :
Fakir = 50 orang
Miskin = 20 orang
Sabilillah = 7 orang
Amil = 10 orang
pada waktu yang telah ditentukan, setelah direkap semua, penerimaan
zakat fitrah yang masuk adalah sebanyak 2000 kg.

simulasi penghitungannya :

2000 kg : 8 asnaf = 250 kg

(8 asnaf = Fakir, miskin, mualaf, hamba sahaya, gharim, sabilillah, ibnu sabil, amil)

keadaan dilapangan hanya ada 4 asnaf yang masuk klasifikasi.
berarti masih sisa 4 asnaf yang kosong, yang masing-masing mendapat bagian
250 kg = 250 kg x 4 = 1000 kg

sisa 1000 kg tersebut di bagi lagi kedalam asnaf yang ada minus amil,
jadi 1000 kg : 3 = 333,33 kg dimasukkan dalam bagian asnaf yang ada,
sehingga perolehannya menjadi :

Fakir = 250 kg + 333,33 kg = 583,33 kg
Miskin = 250 kg + 333,33 kg = 583,33 kg
Sabilillah = 250 kg + 333,33 kg = 583,33 kg
Amil = 250 kg + 0 kg = 250,00 kg
——————————————–
jumlah …. = 2.000 kg
——————————————–

jumlah penerimaan zakat :
Fakir = 583,33 kg : 50 orang = 11,67 kg
Miskin = 583,33 kg : 20 orang = 29,17 kg
Sabilillah = 583,33 kg : 7 orang = 83,33 kg
Amil = 250,00 kg : 10 orang = 25,00 kg

kalau dilihat dari hasil pembagian tersebut, menurut saya sangat tidak adil karena
bagian fakir mendapatkan yang paling kecil dikarenakan komponen pembaginya banyak.
Sedagkan sabilillah dan amil mendapat bagian yang banyak karena komponen pembaginya
lebih kecil.

simulasi penghitungan yang lain adalah sebagai berikut :

penerima zakat :
Fakir = 50 orang
Miskin = 20 orang
Sabilillah = 7 orang
Amil = 10 orang

komponen pembanding :

Fakir : Miskin : Sabilillah : Amil = 4 : 2 : 3 : 1

sehingga didapat komponen pembagi sebagai berikut :
Fakir = 50 x 4 = 200
Miskin = 20 x 2 = 40
Sabilillah = 7 x 3 = 21
Amil = 10 x 1 = 10
———————————-
komponen pembagi = 271
2000 kg : 271 = 7,38 kg

Sehingga diperoleh bagian per asnaf nya sbb :

Fakir = 50 x 4 = 200 x 7,38 kg = 1.476,01 kg
Miskin = 20 x 2 = 40 x 7,38 kg = 295,20 kg
Sabilillah = 7 x 3 = 21 x 7,38 kg = 154,98 kg
Amil = 10 x 1 = 10 x 7,38 kg = 73,80 kg
——————————————————-
Jumlah terbagi ……. = 2.000,00 kg
——————————————————-

Bagian per orang nya sebagai berikut :

Fakir = 1.476,01 kg : 50 = 29,52 kg
Miskin = 295,20 kg : 20 = 14,76 kg
Sabilillah = 154,98 kg : 7 = 22,14 kg
Amil = 73,80 kg : 10 = 7,38 kg

saya lebih menggunakan perhitungan yang kedua, akan tetapi yang jadi pertanyaan adalah
komponen pembanding antara Fakir : Miskin : Sabilillah : Amil
perbandingan yang proporsional bagaimana ??

ada yang punya pencerahan ??

Keutamaan Surat Al-Ikhlas

Keutamaan Surat Al-Ikhlas


materi ini aku dapat dari email berantai dari temenku Franky Ervan
“Au zubillah himinashsyaitan nirrajim…bismillahirrahmannirrahim”

Tafsirannya:

Aku berlindung dengan Allah daripada syaitan yang direjam, Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
Bacalah ayat ini sebelum anda memulakan apa-apa saja kerja kerana dengan bacaan ini akan keluarlah iblis dan syaitan yang berada didalam tubuh kita dan juga di sekeliling kita, mereka akan berlari keluar umpama cacing kepanasan. Sebelum anda masuk rumah, bacalah ayat di atas, kemudian bacalah surah Al-Ikhlas (iaitu ayat: Qulhuwallahu ahad. Allahussamad. Lamyalid walam yu-lad. walam yakul lahu kufuwan ahad.) sebanyak 3 kali. Masuklah rumah dengan kaki kanan dan dengan membaca bismillah.

Berilah salam kepada anggota rumah dan sekiranya tiada orang di rumah berilah salam kerana malaikat rumah akan menyahut.
Amalkanlah bersolat kerana salam pertama (ianya wajib) yang diucapkan pada akhir solat akan membantu kita menjawab persoalan kubur.
Apabila malaikat memberi salam, seorang yang jarang bersolat akan sukar menjawab salam tersebut. Tetapi bagi mereka yang kerap bersolat, amalan daripada salam yang diucap di akhir solat akan menolongnya menjawab salam malaikat itu.

Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud:

Barangsiapa membaca surah Al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, akan selamat dia dari kesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap mereka melintasi titian siratul mustaqim lalu menuju ke syurga. (Demikian diterangkan dalam Tadzikaratul Qurthuby).

Rasulullah SAW pernah bertanya sebuah teka-teki kepada umatnya Siapakah antara kamu yang dapat khatam Qur’an dalam jangkamasa dua-tiga minit? Tiada seorang dari sahabatnya yang menjawab. Malah Saiyidina Ummar telah mengatakan bahawa ianya mustahil untuk mengatam Qur’an dalam begitu cepat. Kemudiannya Saiyyidina Ali mengangkat tangannya. Saiyidina Ummar bersuara kepada Saiyidina Ali bahawa Saiyidina Ali (yang sedang kecil pada waktu itu)tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Lantas Saiyidina Ali membaca surah Al-Ikhlas tiga kali. Rasulullah SAW menjawab dengan mengatakan bahawa Saiyidina Ali betul . Membaca surah Al-Ikhlas sekali ganjarannya sama dengan membaca 10 jus kitab Al-Quran. Lalu dengan membaca surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali qatamlah Quran kerana ianya sama dengan membaca 30 jus Al-Quran.

Berkata Ibnu Abbas r.a. bahawa Rasulullah SAW telah bersabda:

Ketika saya (Rasulullah SAW) israk ke langit, maka saya telah melihat Arasy di atas 360,000 sendi dan jarak jauh antara satu sendi ke satu sendi ialah 300,000 tahun perjalanan. Pada tiap-tiap sendi itu terdapat padang sahara sebanyak 12,000 dan luasnya setiap satu padang sahara itu seluas dari timur hingga ke barat. Pada setiap padang sahara itu terdapat 80,000 malaikat yang mana kesemuanya membaca surah Al-Ikhlas. Setelah mereka selesai membaca surah tersebut maka berkata mereka: Wahai Tuhan kami,sesungguhnya pahala dari bacaan kami ini kami berikan kepada orang yang membaca surah Al-Ikhlas baik ianya lelaki mahupun perempuan.

Sabda Rasulullah SAW lagi:

Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, sesungguhnya Qul Huwallahu Ahadu itu tertulis di sayap malaikat Jibrail a.s, Allahhus Somad itu tertulis di sayap malaikat Mikail a.s, Lamyalid walam yuulad tertulis pada sayap malaikat Izrail a.s, Walam yakullahu kufuwan ahadu tertulis pada sayap malaikat Israfil a.s.

Nota:

Jika sekiranya kawan-kawan ingin mengumpul saham akhirat, sampaikanlah ilmu ini kepada kawan2 yang lain. Sepertimana sabda Rasulullah SAW ‘Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat’. Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :
1) Sedekah/amal jariahnya
2) Doa anak-anaknya yang soleh
3) Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.

Dari Abdullah bin ‘Amr r.a., “Rasulullah S.A.W. bersabda,Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat…”

Sekarang anda mempunyai 2 pilihan :

1. Biarkan E-mail ini tetap dalam mailbox anda. Insya Allah tidak akan ada sesuatu yang terjadi pada diri anda.
2. Forward E-mail ini ke sejumlah orang yang anda kenal dan Insya Allah ridha Allah akan dianugerahkan kepada setiap orang yang anda kirim.

AMIN

~Wallahualam~

Panglima Romawi yang bertaubat

Panglima Romawi yang bertaubat


Dalam kegemparan terjadinya peperangan Yarmuk, salah seorang panglima Romawi yang bermana George memanggil Khalid bin Walid. Kedua orang panglima itu saling mendekat sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu. Kepada Khalid, George bertanya: “Wahai Khalid, aku meminta kamu berbicara dengan jujur dan jangan berdusta sedikitpun, kerana Tuhan Yang Maha Mulia tidak pernah berdusta, dan jangan pula kamu menipuku, karana sesungguhnya orang yang beriman itu tidak akan berdusta di sisi Allah.”

“Tanyalah apa yang ingin engkau tanyakan,” kata Khalid.

“Apakah Allah menurunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW sebuah pedang dari langit kemudian diberikannya kepadamu sehingga jika kamu pakai pedang itu untuk berperang, pasti kamu akan menang?”

“Tidak!” Jawab Khalid.

“Apakah sebabnya kamu digelar dengan Saifullah (Pedang Allah)?” Tanya George.

Khalid menjawab: “Ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, seluruh kaumnya sangat memusuhinya termasuk juga aku, aku adalah orang yang paling membencinya. Setelah Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepadaku, maka aku pun masuk Islam. Ketika aku masuk Islam Rasulullah SAW menerimaku dan memberi gelaran kepadaku “Saifullah” (pedang Allah).”

“Jadi tujuan kamu berperang ini untuk apa?” Tanya George. “Kami ingin mengajak kamu supaya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah dan kami juga ingin mengajak kamu untuk mempercayai bahwa segala apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW itu adalah benar.” Jawab Khalid.

George bertanya: “Apakah hukumannya bila orang itu tidak mahu menerimanya?” Jawab Khalid: “Hukumannya adalah harus membayar jizyah, maka kami tidak akan memeranginya.”

“Bagaimana kalau mereka tidak mahu membayar?” Tanya George.

“Kami akan mengumumkan perang kepadanya,” kata Khalid bin Walid.

George bertanya: “Bagaimanakah kedudukannya jika orang masuk Islam pada hari ini?”

Khalid menjawab: “Di hadapan Allah SWT, kita akan sama semuanya, baik dia orang yang kuat, orang yang lemah, yang dahulu maupun yang kemudian masuk Islam.”

“Apakah orang dahulu masuk Islam kedudukannya akan sama dengan orang yang baru masuk?” Tanya George.

Khalid menjawab: “Orang yang datang kemudian akan lebih tinggi kedudukannya dari orang yang terdahulu, sebab kami yang terlebih dahulu masuk Islam, menerima Islam itu ketika Rasulullah SAW masih hidup dan kami dapat menyaksikan turunnya wahyu kepada baginda. Sedangkan orang yang masuk Islam kemudian tidak menyaksikan apa yang telah kami saksikan. Oleh kerana itu siapa saja yang masuk Islam yang datang terakhir maka dia akan lebih mulia kedudukannya, sebab dia masuk Islam tanpa menyaksikan bukti-bukti yang lebih meyakinkannya terlebih dahulu.”

George bertanya: “Apakah yang kamu katakan itu benar?” “Demi Allah, sesungguhnya apa yang aku katakan itu adalah benar,”jawab Khalid.

George berkata: “Kalau begitu aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku tentang Islam.”

Lalu Khalid bin Walid membawa George ke dalam khemahnya, kemudian menuangkan air ke dalam timba untuk menyuruh George bersuci dan mengerjakan solat dua rakaat.

Ketika Khalid bersama dengan George masuk ke dalam khemah, maka tentara Romawi mengadakan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam. Setelah selesai mengerjakan solat, maka Khalid bin Walid bersama dengan George dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan solat Zohor dan Asar dengan isyarat saja.

Source : Wisata Hati - Jawa Tengah

Keutamaan Shalat Dhuha

Keutamaan Shalat Dhuha


Shalat Dhuha adalah shalat sunah yang waktunya dilakukan mulai dari waktu fajar sampai sebelum datangnya waktu dzuhur.

Ada banyak keutamaan pengerjaan shalat dhuha ini yaitu :

Pertama, sholat Dhuha merupakan salah satu wasiat Nabi, dalilnya adalah hadits dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Kekasihku (Nabi Muhammad) mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dalam tiap bulan, melakukan dua rakaat sholat Dhuha dan melakukan sholat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim)

Kedua, sholat Dhuha dapat mencukupi sebagai sedekah bagi tiap ruas tulang bani Adam. Hal ini berdasarkan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Tiap pagi ada kewajiban sedekah bagi tiap ruas tulang kalian, Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)

Ketiga, sholat Dhuha merupakan sholatnya orang-orang yang bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatnya orang-orang yang bertaubat adalah pada saat berdirinya anak unta karena teriknya matahari.” (HR. Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahumallah dalam Penjelasan Riyadush Shalihin menjelaskan bahwa sholat yang dimaksud adalah sholat Dhuha. Hadits ini juga menjelaskan bahwa waktu paling afdhol untuk melakukan sholat Dhuha adalah ketika matahari sudah terik.

Mengenai surat-surat yang dibaca setelah surat Al Fatihah, maka sepanjang pengetahuan kami, tidak ada dalil-dalil yang menyatakan tentang surat-surat khusus yang dibaca pada sholat ini. Jadi, kesimpulannya adalah boleh membaca surat apapun dalam Al Quran pada sholat Dhuha. Wallahu a’lam bishshowwab

Source : Wisata Hati - Jawa Tengah

100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman… insyaallah

1. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
2. Sabar apabila mendapat kesulitan;
3. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
8. Jangan usil dengan kekayaan orang;
9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;
42. Berlakulah adil dalam segala urusan;
43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
46. Perbanyak silaturahmi;
47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
48. Bicaralah secukupnya;
49. Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
55. Hormatilah kepada guru dan ulama;
56. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
57. Cintai keluarga Nabi saw;
58. Jangan terlalu banyak hutang;
59. Jangan terlampau mudah berjanji;
60. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
62. Bergaullah dengan orang-orang shaleh;
63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
67. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian;
68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan;
70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan;
71. Jangan melukai hati orang lain;
72. Jangan membiasakan berkata dusta;
73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
77. Jangan membuka aib orang lain;
78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama dan umat manusia;
83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
84. jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
86. Hargai prestasi dan pemberian orang;
87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita menjadi terganggu;
91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum dicek kebenarannya;
95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri;
98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang;

Ciri ciri hamba yg ikhlas

Ciri ciri hamba yg ikhlas


1. Memberi sesuatu dgn perasaan ringan dan tanpa beban di hati.
2. Di hati berkata ketika tangan terjulur memberi kpd yang diberi ” Ini milik Allah dan saya harus mengembalikan kepada-Nya melalui kamu”.
3. Ketika memberi tak berharap imbalan atau ucapan terima kasih, yg penting bg yg diberi merasa bahagia.
4. Tidak mau diperlihatkan org apalagi disorot Media, krn tugas iblis selain menjegal dan menggugurkan amal-amal saleh, jg ia sgt sabar menunggu kapan hamba-hamba yg ikhlas gugur amalnya dgn cara dipuja atau diungkit-ungkit.
5. Tak pernah kecewa walau ternyata amal salehnya berimbas kpd ujian dan cobaan yg menyakitkan.
6. Tak pernah resah dan gelisah dan tak pernah bangga dgn keberhasilan, dan tak pernah merasa sedikitpun sedih bila mengalami kegagalan, sebab yg dicari hanyalah ridho Allah SWT.”Illahi anta maqsudi waridoka mathlubi”.
7. Beramal karena Ikhsan, Lillah, Billah, Minallah, Ilallah.

Insya Allah…

Antara Orang Kaya dengan Anak Kecil di Masjid

Antara Orang Kaya dengan Anak Kecil di Masjid


Suatu hari ada orang kaya masuk masjid untuk melaksanakan sholat, dia termasuk orang yang saleh, lalu dia melihat seorang anak kecil yang berumur tidak lebih dari dua belas tahun sedang berdiri mengerjakan sholat dengan khusyu’, melakukan ruku’ dan sujud dengan hening dan tenang, tatkala anak itu selesai dari sholatnya mendekatlah si kaya seraya bertanya kepadanya, ”Anak siapakah kamu ?”

”Aku anak yatim, aku kehilangan ayah dan ibuku”
”Maukah kamu menjadi anakku?”
Si anak berkata,”Apakah engkau akan memberiku makanan ketika aku lapar?”
Si lelaki kaya menjawab,”Ya, InsyaAlloh”

”Apakah engkau akan memberi minum ketika aku haus?”
” Ya, InsyaAllah”
” Apakah engkau akan memberiku pakaian ketika aku telanjang?”
” Ya, InsyaAllah”
” Apakah engkau akan menghidupkan aku tatkala aku sudah mati?”
Takjublah lelaki itu seraya berkata,’ ”Ini tidak mungkin dilakukan!”

Anak kecil itu berkata, ”Kalau begitu, tinggalkanlah aku bersama Dzat yang telah menciptakan aku, memberiku rezeki, mematikan aku kemudian menghidupkanku kembali”
Lelaki itu berkata kepada si anak, ”Benar wahai anakku! Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah pasti Dia mencukupinya”.

(Dikutip dari: Asybaluna Al-‘Ulama, Oleh Muhammad Sulthon)
www.mediamuslim.info

“Keutamaan Sholat Dhuha”

Masih tentang “Keutamaan Sholat Dhuha”


Orang yang suka memulai di pagi harinya dengan menyebut dan mengagungkan Allah dengan melakukan shalat dhuha yakni shalat sunnat dua rakaat sekali, dua kali, tiga kali atau empat kali sesudah naik matahari kira-kira antara jam 7 sampai dengan jam 11, Allah SWT akan menjamin baginya dengan jaminan istimewa di dunia dan akhirat.

Perbuatan tersebut adalah kebiasaan yang dilakukan Rasulullah SAW selama hidupnya, sebagaimana beberapa keterangan antara lain :

“Telah berkata Abu Huraerah : Kekasih saya, (Nabi Muhammad SAW) telah berwasiat tiga perkara kepada saya, yaitu puasa tiga hari tiap-tiap bulan, sembahyang dhuha dua rakaat dan sembahyang witir sebelum tidur”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari Muslim).

“Ada orang bertanya kepada Aisyah : Adakah Rasulullah SAW sembahyang dhuha? Jawabnya : Ada, empat rakaat, dan terkadang ia tambah yang dikehendaki oleh Allah”. (H.R. Muslim).

“Telah berkata Ummu Hani : Rasulullah SAW pernah pergi mandi, dan dilindungi oleh Fatimah, kemudian ia ambil kainnya, lalu berselimut dengan itu, kemudian ia sembahyang delapan rakaat, sembahyang Dhuha”. (Riwayat Bukhari Muslim 318 - Pengajaran Shalat).

Memang SHALAT DHUHA merupakan keistimewaan yang luar biasa, sebab manusia akan merasa berat dan bahkan terlalu berat disaat-saat yang tanggung untuk berangkat kerja atau sedang kerja (sekitar jam 7 hingga jam 11), dia menyempatkan diri dulu buat melakukan shalat sunnat tersebut.

Padahal dirasa berat hanyalah apabila belum biasa dan belum tahu keistimewaannya. Lain halnya dengan orang yang sudah tahu keistimewaannya dan imannya pun cukup kuat, tentu walau bagaimanapun keadaannya, apakah dia mau berangkat, ataukah sedang dikantor, tentu ia mengutamakan shalat itu barang sebentar, ia merasa sayang akan keutamaan ridha Allah yang ada pada shalat tersebut.

Keutamaan shalat DHUHA dalam pahalanya memadai buat mensucikan seluruh anggota tubuh yang padanya ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sebagimana keterangan Rasulullah SAW bahwa setiap persendian itu ada hak untuk dikeluarkan shadaqahnya. Sedang dengan tasbih, tahmid, takbir dan amar ma’ruf nahyil munkar, cukuplah memadai buat kafarat kepada haq tersebut. Tapi semua itu cukuplah memadai dengan shalat DHUHA dua rakaat :

“Dari Abu Huraerah ridliyallhu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda :
~Pada tiap-tiap persendian itu ada shadaqahnya,
~setiap tasbih adalah shadaqah,
~setiap tahmid adalah shadaqah,
~setiap tahlil adalah shadaqah,
~setiap takbir adalah shadaqah (bacaanya : SUBHANALLAH/MAHA SUCI ALLAH, ALHAMDULILLAH/SEGALA PUJI BAGI ALLAH, LAA ILAHA ILLALLAHU/TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, ALLHU AKBAR/ALLAH MAHA BESAR),
~setiap amar ma’ruf nahyil munkar itu shadaqah. Dan cukuplah memadai semua itu dengan memperkuat/melakukan dua rakaat shalat dhuha” (Riwayat Muslim - Dalilil Falihin Juz III, hal 627).

Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa shalat empat rakaat dipagi hari, Allah bakal menjamin dan mencukupkan segalanya dengan limpahan barakah sepanjang hari itu, sehingga bathinpun akan terasa damai walau apapun tantangan hidup yang merongrong, karena dia telah sadar semua itu ketetapan Allah :

“Hai anak Adam, tunaikanlah kewajibanmu untuk KU, yaitu sembahyang empat rakaat pada pagi hari, niscaya Aku akan mencukupi sepanjang harimu (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Ya’la).

Dengan lafadz lain berbunyi :

“Hai anak Adam, bersembahyanglah untuk KU empat rakaat pada pagi hari, aku akan mencukupimu sepanjang hari itu” (Riwayat Ahmad dari Abi Murrah).

Coba renungkankan isi daripada do’a setelah shalat dhuha itu, nadanya seolah-olah memaksa untuk diperkenankan oleh Allah. Dan memang demikianlah lafadz do’a tersebut diajarkan oleh Rasulullah SAW :

“Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha (milik) Mu, kecantikan ialah kencantikan (milik) Mu, keindahan itu keindahan (milik) Mu, kekuatan itu kekuatan (milik) Mu, kekuasaan itu kekuasaan (milik) Mu, dan perlindungan itu perlindungan Mu”.

Ya Allah, jika rizqiku masih diatas langit, turunkanlah (berlafadz perintah), dan jika ada di didalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba Mu yang shaleh”.

Itulah keistimewaan dan keutamaan shalat DHUHA, didunia memberikan keberkahan hidup kepada pelakunya, diakheratpun /di hari kiamat orang itu dipanggil/dicari Tuhan untuk dimasukkan ke dalam syurga, sebagaimana sabda Nya didalam hadits qudsi :

“Sesungguhnya di dalam syurga, ada pintu yang dinamakan pintu DHUHA, maka ketika datang hari kiamat memanggillah (yang memanggil Allah), dimanakah orang yang selalu mengerjakan sembahyang atas Ku dengan sembahyang DHUHA? inilah pintu kamu, maka masuklah kamu ke dalam syurga dengan rahmat Allah”. (Riwayat Thabrani dari Abu Huraerah).

Hikmah berbakti kepada kedua orang tua

Hikmah berbakti kepada kedua orang tua


Selain seorang nabi, Sulaiman AS. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah ia berhasil menundukkan Ratu Balqis dengan jin ifrit-Nya. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar. Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu.

Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. DI sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman. Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu heran, “Kubah apakah gerangan ini?” fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.

“Siapakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?” tanya Nabi Sulaiman keheranan. “Aku adalah manusia”, jawab pemuda itu perlahan. “Bagaimana engkau meiliki karomah semacam ini?” tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.

Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit. “Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya.” Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu. “Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?” tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut. “Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah.”

“Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?” “Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.” “Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?” tanya Nabi Sulaiman AS yang merasa semakin heran. “Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam.” Tuturnya.

Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Rasulullah dan Pengemis Yahudi Buta

Rasulullah dan Pengemis Yahudi Buta


Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Menyelami Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar

Menyelami Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar


tasbih Bacaan tasbih, tahmid dan takbir merupakan bacaan-bacaan terpuji (kalimah thoyyibah). Untuk dapat menghayati ketiga dzikir di atas mari kita tinjau pengertian dari masing-masing kalimah di atas:

Subhanallah : Maha Suci (Engkau) Allah
dalam kita berdialog dengan Allah, baik dalam sholat maupun dalam dzikir, puji-pujian, yang perlu kita tekankan ada plus (+) dan minus (-). plus di sisi Allah minus di sisi kita, hambaNya. Kalau di dalam sholat, mengingat waktunya singkat, di saat kita baca diusahakan dalam benak kita langsung terlintas dan dirasakan ke-Maha SucianNya (dari sifat lemah, salah, butuh dll) dan pengakuan sifat lemah kita, salah dan butuh kita padaNya. 2 task sekali waktu (berbarengan)

Saat kita baca subhanallah….dg teringat tafsirnya, kita paparkan dalam hati….Maha Suci Engkau Ya Allah, hanya Engkaulah yang suci, diriku kotor ya Allah…
Subhanallah… Maha Suci Engkau dari sifat lemah, sedang kekuatanku tiada apa-apanya di hadapanMu…
subhanallah… Maha Suci Engkau dari mendlolimi, akulah hambaMu yang dlolim…

Alhamdulilllah : segala puji untuk(mu) Allah
kata ” li” dalam bahasa arab, utk bacaan tahmid bisa berarti untuk, bisa juga berarti milik. Alhamdulillah = segala puji hanya untukMu ya Allah, atau segala puji hanya milikMu. Mari kita tengok ke dalam diri kita, ketika kita mendapat nikmat, atau kabar gembira, saat kita mengucap alhamdulillah, yg terpikir di benak kita itu kita memuji Allah karena telah memberi nikmat atau kabar gembira saja, ataukah ada penjabaran yang lain. Dalam hampir semua tulisan-tulisan sebelumnya penjabaran itu selalu saya kedepankan, karena dari penjabaran itulah RASA bisa hadir, pemahaman dan keyakinan menjadi kuat. Misal ketika kita mendapat rizki tambahan, terucap Alhamdulillah… di hati dan pikiran kita spontan berkata : Terimakasih Ya Allah, segala puji hanya untukMu Wahai Tuhan yang Maha pemurah, Maha tahu akan kebutuhanku, Maha bijaksana dalam semua ketetapan-ketetapanMu, dst…..

Ada hal lain yang bisa dipraktekkan agar “Alhamdulillah” bisa mencegah kita dari “kibr” alias sombong, terutama ketika mendengar pujian dari orang lain. Yaitu kita langsung menterjemahkan nya menjadi : Segala puji hanya milikMu Ya Allah, bukan milikku. Ketampanan/kecantikan (misal orang memuji ketampanan/kecantikan kita) ini milikMu Ya Allah, kepandaian ini milikMu Ya Allah tak pantas aku menyombongkannya dan merasa besar diri di hadapanMu ataupun dihadapan yg lain.

Allahu Akbar : Allah Maha Besar
Kata “Akbar” merupakan bentuk “the most” dari Kabir, yang artinya besar; maka artinya paling besar, karena untuk Tuhan menjadi Maha Besar. Dalam konteks yang lain berdasar Wazan nya kata Akbar juga bisa berarti lebih besar.

Saat kita ucapkan Allahu Akbar, terucap juga dalam diri kita: “Ya Allah… Engkau yg Maha besar, aku kecil ya Allah, tidak ada seper-berapa-punnya dibandingkan Engkau…Kalau kulihat diriku dan luas tanah lapang yg ada didepanku sudah tak berbanding, apalagi diukur dengan luas seluruh daratanMu di bumi, langitMu…, sistem tata surya…, gugusan-gugusan galaksi…. Ohh…Ya Huw…. Allaahu Akbar… Sungguh besar kekuasaanMu yg telah menciptakan alam jagad yang Maha besar, kutundukkan diriku, pasrah akan segala ketetapanMu. dst… “

Dzat Allah hanya Allah yg tahu, dan kita dilarang untuk memikirkannya. Kita dianjurkan untuk memikirkan ciptaan-ciptaanNya untuk mengambil ‘ibroh atau pelajaran darinya, yang mendekatkan pemahaman kita akan ke-Maha-an Allah.

Wallahu a’lam bishshowab.

(sumber: kylas.wordpress.com/2008/02/19/menyelami-subhanallah-alhamdulillah-dan-allahu-akbar/)

Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah SAW

Kecintaan Para Sahabat Kepada Rasulullah SAW


mahabbahKecintaan Seorang Sahabat ra.
Dari ‘Aisyah r.a katanya, “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri dan engkau lebih aku cintai daripada orang tuaku. Jika aku berada di rumah, aku senantiasa merindukan dan tak sabar untuk secepatnya dapat bertemu dan melihatmu. dan apabila aku teringat kematianku dan kematianmu, tetapi aku tahu engkau kelak dimasukan ke dalam surga, tentunya engkau akan ditempatkan di surga yang paling tinggi beserta para Nabi. Sedangkan jika aku dimasukkan ke dalam surga, aku takut jika kelak tidak dapat melihatmu lagi”. Nabi SAW tidak menjawab ucapan orang tersebut sampai Jibril menurunkan firman Allah,

Artinya: Dan barang siapa mencintai Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan merekalah teman yang sebaik-baiknva. (An Nisaa’: 69)

(Thabrani, Abu Nuaim. Al-Hilyah. 4/240)

Dari Ibnu Abbas ra. dikatakan ada seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata. “Wahai Rasulullah aku sangat mencintaimu dan selalu mengingatimu. tapi vang aku takutkan jika kelak engkau dimasukkan ke dalam surga di tingkat yang paling tinggi sedangkan aku dimasukkan di tempat yang tidak sama denganmu, maka aku takut tidak dapat lagi melihatinu kelak di akhirat”. Rasulullah SAW tidak menjawab ucapan lelaki itu sampai Allah menurunkan fimian-Nya. Wa man yutiillah war Raszila fa ulaika ma’al ladzina…(An Nisaa’: 69). Setelah itu Rasulullah SAW membacakan ayat tersebut di hadapan lelaki itu dan mendoakanya.”
(Thabrani, Al-Haitsami. 4/7)

Kecintaan Sa’ad bin Mu’adz ra.
Dari Abdullah bin Abu Bakar ra., ‘.Sesungguhnya Sa’ad bin Muadz ra, berkata kepada Nabi SAW . “Ya Rasulullah. maukah engkau kami buatkan sebuah benteng dan kami siapkan di sisimu sebuah kendaraan. Kemudian kami maju berhadapan dengan musuh, jika kami diberi kemenangan oleh Allah maka itulah yang kami harapkan. tapi jika terjadi sebaliknya, maka engkau dapat segera pergi dengan kendaraan ini. menemui pasukan kita yang masih ada di belakang kita. sebab di belakang kami tertinggal sejuklah kaum yang sangat mencintaimu. Sungguh andaikata mereka tahu bahwa engkau akan berperang pasti mereka akan ikut semuanya. Akan tetapi di karenakan mereka tidak tahu bahwa engkau akan menemui pasukan musuh seperti ini. maka tidaklah heran jika sebagian orang tidak ikut bersama engkau.”Maka Rasullah SAW menyatakan terimakasihnya dan mendoakan kebaikan baginva, kemudian mereka membangunkan sebuah benteng bagi Nabi
(Ibnu Ishaq, Al-Bidayah 3/268)

Rahasia Khusyuk Dalam Sholat

Rahasia Khusyuk Dalam Sholat


Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?”
Hatim berkata : “Apabila masuk waktu solat aku berwudhu’ lahir dan batin.”

Isam bertanya, “Bagaimana wudhu’ lahir dan batin itu?”
Hatim berkata, “Wudhu’ lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sementara wudhu’ batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-

1. bertaubat
2. menyesali dosa yang dilakukan
3. tidak tergila-gilakan dunia
4. tidak mencari / mengharap pujian orang (riya’)
5. tinggalkan sifat berbangga
6. tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. meninggalkan sifat dengki

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Sirratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhu’, aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun.”
Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

dikutip dari buku 1001 kisat teladan..semoga bermanfaat yah sahabat ku (^_^)

Keutamaan Sholat Subuh

Keutamaan Sholat Subuh


“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7)

“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj:40)

TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :

1. Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh
5. Carilah kawan yang baik (shalih)
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa)
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu)
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga

Jika teman2 telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri…(^_^) nah lho..masih berani ??

DI sarikan dari buku Misteri Sholat Shubuh